Perdebatan itu kembali ramai setelah muncul berbagai pemberitaan mengenai warga di daerah terpencil yang kesulitan mencapai fasilitas kesehatan akibat jalan rusak.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan terjadi di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pada Mei 2026, seorang ibu hamil bernama Tuti Br. Daulay harus ditandu warga selama sekitar enam jam melewati medan yang sulit karena akses jalan menuju wilayahnya tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ibu tersebut akhirnya berhasil melahirkan, tetapi bayinya meninggal dunia.
Kondisi serupa juga pernah terjadi di sejumlah wilayah lain. Di Majene, Sulawesi Barat, seorang ibu hamil bahkan harus ditandu sejauh sekitar tiga kilometer menuju puskesmas karena jalan rusak parah tidak dapat dilalui ambulans. Ia kemudian melahirkan di tengah perjalanan.
Persoalan akses jalan dan kesehatan di daerah terpencil pun menjadi perhatian karena waktu tempuh menuju fasilitas kesehatan dapat menentukan keselamatan pasien, khususnya dalam kondisi darurat seperti persalinan.
Prabowo Dorong Ambulans Udara
Di sisi lain, Prabowo memang telah menyampaikan rencana penguatan kemampuan evakuasi medis melalui ambulans udara.
Pada November 2025, Prabowo memerintahkan agar pesawat Airbus A400M milik TNI AU dilengkapi modul ambulans udara. Menurut Prabowo, kemampuan tersebut dapat digunakan untuk mengevakuasi korban luka maupun pasien yang membutuhkan tindakan medis.
Prabowo juga mendorong penambahan batalyon kesehatan TNI untuk mendukung operasi kemanusiaan, termasuk ketika terjadi bencana di dalam maupun luar negeri.
Gagasan tersebut kembali menjadi bahan pembicaraan publik setelah pernyataan terbaru mengenai penguatan layanan medis dan tenaga dokter.
Namun, di media sosial, sebagian warganet mempertanyakan prioritas kebijakan tersebut. Mereka menilai ambulans udara memang dapat menjadi solusi untuk kondisi tertentu, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan masyarakat yang bahkan kesulitan membawa pasien keluar dari desa akibat jalan yang rusak.
“Jalannya Dulu Diperbaiki”
Komentar bernada kritik pun bermunculan di media sosial. Salah satu sentimen yang ramai adalah anggapan bahwa pemerintah seharusnya memperbaiki akses jalan terlebih dahulu sebelum mengandalkan solusi udara.
“Jalan rusak diperbaiki dulu. Kalau ambulans darat saja tidak bisa masuk, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pertolongan cepat?” menjadi inti kritik yang disampaikan sejumlah warganet.
Komentar lain bahkan menyindir gagasan tersebut dengan kalimat, “Ngelantur waee,” karena dianggap terlalu berfokus pada solusi berteknologi tinggi sementara persoalan dasar di lapangan belum seluruhnya terselesaikan.
Kritik serupa juga terlihat dalam diskusi warganet yang mempertanyakan mengapa pemerintah tidak memprioritaskan pembangunan jalan dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil.
Ambulans Udara Tetap Bisa Dibutuhkan
Meski menuai kritik, ambulans udara sebenarnya memiliki fungsi penting, terutama untuk wilayah kepulauan, daerah pegunungan, lokasi bencana, atau wilayah yang akses daratnya terputus.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata memilih antara memperbaiki jalan atau menyediakan ambulans udara. Keduanya dapat berjalan bersamaan.
Jalan yang layak dibutuhkan agar masyarakat dapat mengakses puskesmas, rumah sakit, sekolah, dan pusat ekonomi setiap hari. Sementara ambulans udara dapat menjadi fasilitas darurat ketika kondisi geografis atau bencana membuat transportasi darat tidak memungkinkan.
Yang menjadi sorotan publik adalah bagaimana kebijakan tersebut diterapkan. Masyarakat di daerah terpencil tentu berharap pembangunan infrastruktur dasar tetap menjadi prioritas sehingga mereka tidak harus menunggu kondisi darurat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Kasus ibu hamil yang harus ditandu berjam-jam menjadi pengingat bahwa bagi sebagian masyarakat Indonesia, persoalan kesehatan bukan hanya tentang ketersediaan dokter dan rumah sakit, tetapi juga tentang apakah pasien bisa sampai ke sana tepat waktu.
Pada akhirnya, ambulans udara mungkin bisa menjadi bagian dari solusi. Namun bagi warga yang setiap hari masih menghadapi jalan berlumpur dan sulit dilalui kendaraan, harapan paling sederhana mereka tetap sama: jalan yang bisa dilewati untuk membawa orang sakit ke fasilitas kesehatan.

Komentar
Posting Komentar