Yang Menang Bukan Argentina atau Spanyol, Yang Menang Adalah Mereka Yang Memenuhi Seruan “Hayyalal Falaah” dan “Asholatu Khoirum Minan Nauum”
Namun jika dipikir-pikir, beberapa tahun lagi siapa yang masih peduli siapa juara hari ini?
Piala akan berdebu. Jersey akan usang. Rekor akan dipecahkan lagi.
Tetapi ada satu kemenangan yang nilainya tidak pernah berakhir.
Yaitu kemenangan saat seseorang meninggalkan tempat tidurnya, mengambil air wudhu, lalu berjalan memenuhi panggilan Allah.
Setiap hari, lima kali, terdengar seruan:
"Hayya 'alash Shalah..."
Marilah menuju salat.
Lalu disusul:
"Hayya 'alal Falah..."
Marilah menuju kemenangan dan keberuntungan.
Menariknya, Allah tidak mengatakan, "Datanglah menuju kekalahan."
Tidak.
Allah langsung menyebutnya sebagai falah—kesuksesan, keberuntungan, dan kemenangan yang mencakup seluruh kebaikan dunia maupun akhirat. Banyak ulama menjelaskan bahwa kata falah adalah salah satu kata paling luas maknanya dalam bahasa Arab karena mencakup seluruh bentuk keberhasilan.
Artinya, ketika azan berkumandang, sebenarnya Allah sedang mengumumkan kepada manusia:
"Kalau ingin benar-benar menang, datanglah ke salat."
Sayangnya, banyak orang lebih cepat berlari mengejar pertandingan daripada berlari memenuhi azan.
Mereka rela begadang demi final sepak bola.
Tetapi ketika Subuh tiba, tubuh terasa terlalu berat untuk bangun.
Padahal khusus pada waktu Subuh, muazin mengucapkan kalimat yang tidak ada di waktu salat lainnya:
"Ash-Shalatu Khairum Minan Naum."
"Salat lebih baik daripada tidur."
Kalimat ini bukan sekadar pengingat.
Ia adalah pertarungan antara dua pilihan:
Tetap menikmati kenyamanan beberapa menit lagi...
Atau berdiri menghadap Allah demi kemenangan yang jauh lebih besar.
Ironisnya, banyak orang rela kehilangan waktu tidur untuk menonton pertandingan yang hasilnya tidak akan mengubah nasib akhiratnya.
Namun mereka justru kehilangan salat yang menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.
Tidak salah mencintai sepak bola.
Tidak salah mendukung Argentina.
Tidak salah mengagumi Spanyol.
Tetapi jangan sampai kita lebih semangat menyambut kick-off daripada menyambut azan.
Karena di Hari Kiamat nanti, Allah tidak akan bertanya:
"Tim mana yang kamu dukung saat final?"
Yang pertama kali dihisab adalah salat.
Jika salatnya baik, maka besar harapan amal-amal lainnya ikut baik. Sebaliknya, jika salatnya rusak, maka amal lainnya ikut terancam. Hal ini bersandar pada hadis yang sangat masyhur tentang salat sebagai amal pertama yang dihisab.
Jadi, siapa pemenang yang sebenarnya?
Bukan semata mereka yang mengangkat trofi.
Bukan pula mereka yang berhasil menebak skor final.
Tetapi mereka yang ketika mendengar:
"Hayya 'alal Falah..."
langsung menjawab panggilan itu.
Dan ketika mendengar:
"Ash-Shalatu Khairum Minan Naum..."
mereka memilih bangun, berwudhu, lalu berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
Karena pada akhirnya...
Trofi hanya bertahan beberapa tahun.
Sedangkan pahala salat adalah bekal menuju kehidupan yang tidak pernah berakhir.

Komentar
Posting Komentar