Langsung ke konten utama

Wanita ini Curhat di Media Sosial Ingin Ceraikan Suaminya yang Jatuh Miskin. Bolehkah?

 

Tanyaislamyuk - Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, tidak sedikit rumah tangga yang diuji dengan kehilangan pekerjaan, bangkrutnya usaha, atau menurunnya penghasilan. Namun belakangan ini, sebuah curhatan di media sosial kembali memicu perdebatan. Seorang wanita mengaku ingin menceraikan suaminya karena kini hidup mereka serba kekurangan setelah sang suami jatuh miskin.

Pertanyaannya, bolehkah seorang istri meminta cerai hanya karena suaminya miskin?

Jawabannya tidak bisa disamaratakan. Dalam Islam, kemiskinan bukanlah dosa. Seseorang bisa saja kehilangan harta karena musibah, bencana, sakit, atau kondisi ekonomi yang berada di luar kemampuannya. Karena itu, tidak adil jika seseorang dinilai hanya dari jumlah uang yang dimilikinya.

Namun Islam juga mengajarkan bahwa seorang suami memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada istri sesuai dengan kemampuannya.

Allah berfirman:

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan kepadanya."
(QS. At-Talaq: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran nafkah bukanlah harus kaya, melainkan sesuai kemampuan. Selama suami tetap berusaha bekerja, bertanggung jawab, dan tidak bermalas-malasan, maka kemiskinan semata bukan alasan untuk merendahkannya.

Lalu bagaimana jika suami benar-benar tidak mampu memberi nafkah?

Dalam fikih Islam, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama membolehkan istri mengajukan perceraian apabila suami dalam waktu lama tidak mampu memberikan nafkah pokok dan kondisi tersebut menimbulkan kesulitan yang berat bagi istri. Namun sebagian ulama lain menganjurkan kesabaran apabila suami tetap berusaha mencari rezeki dan kemiskinan itu bukan karena kelalaian atau kemalasannya.

Artinya, persoalannya bukan sekadar miskin atau kaya, tetapi apakah suami masih menjalankan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh atau tidak.

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah etika dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.

Mencurahkan persoalan rumah tangga ke media sosial sering kali justru memperkeruh keadaan. Alih-alih mendapatkan solusi, pasangan bisa saling dipermalukan, keluarga ikut terseret, dan masalah yang sebenarnya masih bisa diselesaikan berubah menjadi konsumsi publik.

Setiap rumah tangga pasti memiliki fase sulit. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan penyakit, ada yang diuji belum memiliki anak, dan ada pula yang diuji dengan kekayaan. Semua itu adalah bagian dari ujian kehidupan.

Jika suami jatuh miskin tetapi tetap bekerja keras, jujur, dan bertanggung jawab, maka mendampinginya melewati masa sulit bisa menjadi bentuk kesetiaan yang sangat bernilai. Sebaliknya, jika suami sengaja meninggalkan kewajibannya, malas bekerja padahal mampu, atau menelantarkan keluarga tanpa alasan yang dibenarkan, maka istri memiliki hak untuk mencari penyelesaian, termasuk melalui jalur hukum atau perceraian jika memang tidak ada lagi jalan keluar.

Pada akhirnya, keputusan untuk mempertahankan atau mengakhiri sebuah pernikahan seharusnya tidak didasarkan hanya pada kondisi finansial sesaat, tetapi juga melihat karakter, tanggung jawab, ikhtiar, serta peluang memperbaiki keadaan.

Lalu menurutmu, apakah kemiskinan yang menimpa suami sudah cukup menjadi alasan untuk bercerai? Atau justru di saat-saat sulit itulah makna kesetiaan dalam pernikahan benar-benar diuji?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dengan Mata Melotot, Pria Bali ini Melarang Umat Islam Merayakan Takbiran di Bali Saat Nyepi

  Tanyaislamyuk - Viral di media sosial, seorang pria Bali bernama Hercules meminta umat Islam melaksanakan takbiran di rumah saat Hari Raya Nyepi. Dengan nada tegas, ia menilai takbiran di luar rumah berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu saat menjalankan Nyepi. Video tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warganet. Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan panduan khusus jika Nyepi bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 H di Bali. Takbiran diperbolehkan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, petasan, atau bunyi-bunyian, dan berlangsung pukul 18.00–21.00 WITA. Perbedaan keyakinan adalah kenyataan di Indonesia. Jika semua pihak bisa saling menahan diri dan menghormati kesepakatan bersama, keharmonisan justru bisa semakin kuat.

Dunia Baru Saja Diguncang Kabar Netanyahu Tewas, Kini Foto Jasadnya Saat Dievakuasi Mulai Beredar

  Tanyaislamyuk - Dunia diguncang kabar bahwa Benjamin Netanyahu tewas setelah serangan besar menghantam wilayah Israel. Tak lama setelah kabar itu menyebar, muncul foto yang diklaim memperlihatkan proses evakuasi jasadnya. Namun hingga kini belum ada kemunculan Netanyahu di publik untuk membantah rumor tersebut. Kita tunggu saja kemunculannya di publik. Semenjak kabar ia mati oleh rudal Iran beredar, dia belum tampil di depan publik. Tapi bisa saja kematiannya memang tidak akan pernah dipublikasikan. Dan yang muncul nanti hanyalah “Netanyahu” baru dengan berbagai keanehan fisiknya. Mungkin saat ini sedang dilakukan audisi untuk mencari sosok yang mirip. Dunia hanya bisa menunggu… atau mungkin sedang menyaksikan sandiwara besar. Menurut kalian ini benar atau hanya sandiwara politik? Tulis pendapat kalian di komentar. Kalau kabar ini benar, apa dampaknya bagi Israel dan Iran?

Ternyata Indonesia Hanya Dijadikan ATM Bagi Industri Religi di Arab Saudi

Indonesia itu ATM Industri Religi di Arab Saudi,  Tapi Timbal Baliknya Sangat Miris. Jutaan umat Islam Indonesia berangkat ke Tanah Suci setiap tahun. Mereka datang dengan niat ibadah, pulang dengan doa. Namun tanpa disadari, di balik kesalehan itu Indonesia sedang menjalankan peran lain: menjadi ATM raksasa industri religi Arab Saudi. Uang mengalir deras. Sangat deras. Tapi penghormatan, pelayanan, dan posisi tawar? Justru terasa kering dan memprihatinkan. Umat Datang Membawa Devisa, Pulang Membawa Keluhan Biaya haji dan umrah dari Indonesia menyumbang puluhan triliun rupiah setiap tahun bagi Arab Saudi. Hotel mewah penuh oleh jemaah Indonesia, maskapai hidup dari jamaah Indonesia, katering dan transportasi berputar karena jamaah Indonesia. Namun anehnya, jamaah terbesar di dunia ini justru: - Harus antre 20–40 tahun - Ditempatkan di hotel jauh - Berdesakan ekstrem - Lanjut usia dipaksa bertahan di tengah sistem yang kejam Indonesia menyumbang paling banyak, tapi sering mendapat p...