Langsung ke konten utama

Persiapan Acara Tahlilan: Kopi, Rokok, Besek, Amplop, Nasi Berkat. Kira-kira Jika Tidak Mampu Sediakan itu Semua, Tetap ada yang Datang Mendoakan?

 

Tanyaislamyuk - Sebelum marah, coba renungkan satu pertanyaan.

Kalau semua kopi dibatalkan...
Rokok tidak disediakan...
Besek kosong...
Amplop tidak dibagikan...
Dan nasi berkat tidak ada...

Masihkah rumah duka dipenuhi orang yang datang untuk mendoakan?

Inilah yang menjadi kritik sebagian ulama Salafi terhadap tradisi tahlilan.

Mereka berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak pernah mengadakan ritual berkumpul pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, seratus, atau haul kematian dengan menyediakan jamuan makanan.

Justru ketika seseorang meninggal, keluarga yang berduka sedang ditimpa musibah. Mereka seharusnya diringankan bebannya, bukan dibebani biaya konsumsi untuk menjamu banyak tamu.

Bahkan terdapat riwayat bahwa para sahabat memandang berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat jamuan setelah pemakaman sebagai bagian dari bentuk ratapan yang tidak diajarkan.

Karena itu, menurut pandangan ini, doa kepada mayit tidak membutuhkan acara khusus, tidak membutuhkan undangan, tidak membutuhkan kopi, rokok, nasi kotak, ataupun amplop.

Kalau benar tujuan utamanya adalah mendoakan, maka doa bisa dipanjatkan kapan saja dan di mana saja. Sendiri pun bisa. Tanpa harus menunggu acara tertentu.

Mereka juga mengingatkan agar ibadah tidak bercampur dengan adat yang akhirnya memberatkan keluarga yang sedang berduka. Tidak sedikit orang yang sampai berutang demi mengadakan tahlilan karena takut dianggap pelit atau tidak menghormati tradisi.

Padahal, menurut mereka, ukuran diterimanya ibadah bukanlah seberapa meriah acaranya, melainkan apakah ada contoh dari Rasulullah ﷺ.

Jadi, pertanyaannya bukan sekadar: "Boleh atau tidak mengadakan tahlilan?"

Tetapi juga:

Jika semua hidangan dihilangkan, masihkah orang-orang datang hanya untuk mendoakan? Atau selama ini yang dipertahankan lebih banyak tradisi daripada tuntunan?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dengan Mata Melotot, Pria Bali ini Melarang Umat Islam Merayakan Takbiran di Bali Saat Nyepi

  Tanyaislamyuk - Viral di media sosial, seorang pria Bali bernama Hercules meminta umat Islam melaksanakan takbiran di rumah saat Hari Raya Nyepi. Dengan nada tegas, ia menilai takbiran di luar rumah berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu saat menjalankan Nyepi. Video tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warganet. Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan panduan khusus jika Nyepi bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 H di Bali. Takbiran diperbolehkan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, petasan, atau bunyi-bunyian, dan berlangsung pukul 18.00–21.00 WITA. Perbedaan keyakinan adalah kenyataan di Indonesia. Jika semua pihak bisa saling menahan diri dan menghormati kesepakatan bersama, keharmonisan justru bisa semakin kuat.

Dunia Baru Saja Diguncang Kabar Netanyahu Tewas, Kini Foto Jasadnya Saat Dievakuasi Mulai Beredar

  Tanyaislamyuk - Dunia diguncang kabar bahwa Benjamin Netanyahu tewas setelah serangan besar menghantam wilayah Israel. Tak lama setelah kabar itu menyebar, muncul foto yang diklaim memperlihatkan proses evakuasi jasadnya. Namun hingga kini belum ada kemunculan Netanyahu di publik untuk membantah rumor tersebut. Kita tunggu saja kemunculannya di publik. Semenjak kabar ia mati oleh rudal Iran beredar, dia belum tampil di depan publik. Tapi bisa saja kematiannya memang tidak akan pernah dipublikasikan. Dan yang muncul nanti hanyalah “Netanyahu” baru dengan berbagai keanehan fisiknya. Mungkin saat ini sedang dilakukan audisi untuk mencari sosok yang mirip. Dunia hanya bisa menunggu… atau mungkin sedang menyaksikan sandiwara besar. Menurut kalian ini benar atau hanya sandiwara politik? Tulis pendapat kalian di komentar. Kalau kabar ini benar, apa dampaknya bagi Israel dan Iran?

Ternyata Indonesia Hanya Dijadikan ATM Bagi Industri Religi di Arab Saudi

Indonesia itu ATM Industri Religi di Arab Saudi,  Tapi Timbal Baliknya Sangat Miris. Jutaan umat Islam Indonesia berangkat ke Tanah Suci setiap tahun. Mereka datang dengan niat ibadah, pulang dengan doa. Namun tanpa disadari, di balik kesalehan itu Indonesia sedang menjalankan peran lain: menjadi ATM raksasa industri religi Arab Saudi. Uang mengalir deras. Sangat deras. Tapi penghormatan, pelayanan, dan posisi tawar? Justru terasa kering dan memprihatinkan. Umat Datang Membawa Devisa, Pulang Membawa Keluhan Biaya haji dan umrah dari Indonesia menyumbang puluhan triliun rupiah setiap tahun bagi Arab Saudi. Hotel mewah penuh oleh jemaah Indonesia, maskapai hidup dari jamaah Indonesia, katering dan transportasi berputar karena jamaah Indonesia. Namun anehnya, jamaah terbesar di dunia ini justru: - Harus antre 20–40 tahun - Ditempatkan di hotel jauh - Berdesakan ekstrem - Lanjut usia dipaksa bertahan di tengah sistem yang kejam Indonesia menyumbang paling banyak, tapi sering mendapat p...