Belakangan ini muncul berbagai tren joget dengan gerakan yang semakin sulit dipahami. Bukan lagi soal koreografi yang keren atau kreativitas dalam menari, tetapi lebih kepada gerakan-gerakan yang sengaja dibuat nyeleneh demi menarik perhatian. Akibatnya, banyak orang merasa bahwa yang dicari bukan lagi kualitas konten, melainkan sekadar viral.
Kalimat "Ketika trend pindah ke otak dan otak pindah ke bok*ng" memang terdengar satir. Maksudnya bukan menghina siapa pun, melainkan menyindir fenomena ketika seseorang seolah berhenti berpikir kritis demi mengikuti tren yang sedang ramai. Selama bisa masuk FYP, apa pun dilakukan, tanpa memikirkan apakah kontennya masih pantas, bermanfaat, atau justru mempermalukan diri sendiri.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana algoritma media sosial sering kali memberi panggung pada hal-hal yang mengundang perhatian, bukan selalu yang berkualitas. Semakin aneh, semakin mengundang komentar. Semakin kontroversial, semakin besar peluang videonya menyebar.
Tentu saja tidak semua tren buruk. Banyak juga tantangan kreatif, edukatif, hingga menginspirasi yang layak diikuti. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah kita mengikuti tren karena memang menyenangkan, atau hanya takut ketinggalan dan haus validasi?
Pada akhirnya, tren akan terus berganti. Yang seharusnya tidak ikut berubah adalah kemampuan kita untuk berpikir sebelum ikut-ikutan. Karena viral hanya bertahan beberapa hari, sementara citra diri di internet bisa bertahan bertahun-tahun.
Kalau menurutmu, tren seperti ini lucu, kreatif, atau justru mulai kebablasan?

Komentar
Posting Komentar