Padahal, Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya. Tidak ada satu pun permintaan hamba yang mampu mengurangi kekayaan-Nya. Yang sering membatasi doa kita bukanlah kemampuan Allah, melainkan cara kita memandang diri sendiri.
Salah satu pelajaran paling indah tentang cara berdoa datang dari Nabi Sulaiman 'alaihissalam.
Nabi Sulaiman Meminta Kerajaan yang Belum Pernah Dimiliki Siapa Pun
Setelah memohon ampun kepada Allah, Nabi Sulaiman tidak berhenti sampai di situ. Beliau justru meminta sesuatu yang luar biasa besar.
Allah mengabadikan doa beliau dalam Al-Qur'an:
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi."
(QS. Shad: 35)
Perhatikan isi doanya.
Beliau tidak berkata, "Ya Allah, berikanlah aku kerajaan secukupnya."
Beliau juga tidak berkata, "Aku takut meminta terlalu besar."
Sebaliknya, beliau meminta sebuah kerajaan yang belum pernah diberikan kepada siapa pun setelahnya.
Dan Allah mengabulkannya.
Mengapa Nabi Sulaiman Berani Meminta Sebesar Itu?
Karena beliau mengenal siapa yang dimintai.
Beliau tahu bahwa Allah adalah Al-Wahhab, Yang Maha Pemberi.
Ketika seseorang benar-benar mengenal kebesaran Allah, ia tidak akan merasa doanya terlalu besar. Sebab yang besar menurut manusia, sangat kecil di hadapan Allah.
Bagi Allah, menciptakan langit dan bumi sama mudahnya dengan mengabulkan doa seorang hamba.
Jangan Biarkan Perasaan Tidak Pantas Menghalangi Doa
Merasa penuh dosa memang bisa membuat seseorang rendah hati. Namun, jika perasaan itu membuat kita berhenti berharap kepada Allah, maka itu bukan lagi kerendahan hati, melainkan keputusasaan yang tidak dianjurkan.
Allah justru memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan berharap kepada-Nya.
Tidak ada syarat harus sempurna terlebih dahulu sebelum berdoa.
Justru orang yang paling membutuhkan Allah adalah orang yang datang kepada-Nya dengan segala kekurangan.
Meminta Dunia dan Akhirat Bukanlah Keserakahan
Sebagian orang takut meminta rezeki yang melimpah karena khawatir dianggap terlalu mencintai dunia.
Padahal, jika rezeki itu digunakan untuk beribadah, membantu keluarga, bersedekah, menolong sesama, dan menyebarkan kebaikan, maka kekayaan bisa menjadi jalan menuju akhirat.
Islam tidak mengajarkan kita berpikir kecil.
Islam mengajarkan kita meminta yang terbaik, lalu menggunakannya di jalan yang diridhai Allah.
Adab yang Dicontohkan Nabi Sulaiman
Ada pelajaran penting dari doa Nabi Sulaiman.
Sebelum meminta kerajaan, beliau terlebih dahulu memohon ampun kepada Allah.
Ini menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar sebelum berdoa adalah adab yang sangat mulia. Setelah itu, beliau menyampaikan permintaannya dengan penuh keyakinan, lalu menutupnya dengan pengakuan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi.
Doa yang baik bukan hanya tentang apa yang diminta, tetapi juga bagaimana hati bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Berdoalah dengan Penuh Keyakinan
Jangan batasi doa hanya karena merasa tidak layak.
Mintalah ilmu yang bermanfaat.
Mintalah rezeki yang halal dan melimpah.
Mintalah keluarga yang sakinah.
Mintalah kesehatan.
Mintalah husnul khatimah.
Mintalah surga.
Mintalah semua kebaikan dunia dan akhirat.
Karena kita meminta kepada Allah, bukan kepada manusia.
Selama yang diminta adalah sesuatu yang baik dan halal, jangan pernah merasa sungkan untuk berharap besar kepada-Nya.
Penutup
Nabi Sulaiman mengajarkan bahwa seorang hamba boleh memiliki harapan yang besar, selama hatinya tetap tunduk kepada Allah.
Jangan pernah mengecilkan doa hanya karena merasa diri penuh kekurangan. Yang menentukan terkabul atau tidaknya doa bukanlah seberapa pantas kita, melainkan seberapa Maha Pemurah Allah.
Maka, jika hari ini engkau mengangkat kedua tangan untuk berdoa, mintalah dengan penuh keyakinan.
Mintalah seperti Nabi Sulaiman: tanpa ragu, tanpa merasa tidak pantas, dan dengan keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik Pemberi.

Komentar
Posting Komentar