Curhat Warga Gunung Kidul yang Kesal Dengan Tradisi Jawa yang Apa-apa Harus Nyumbang Uang: “Bahkan, Sapi Tetangga yang Lahiran pun Dijenguk dan Dikasih Sumbangan”
Namun, bagi sebagian orang, tradisi ini perlahan berubah menjadi beban.
Seorang warga Gunung Kidul membagikan keluh kesahnya mengenai kebiasaan tersebut. Menurutnya, hampir setiap minggu selalu ada saja acara yang mengharuskan warga mengeluarkan uang.
Mulai dari kondangan, tahlilan, syukuran panen, khitanan, hingga acara yang menurutnya cukup unik.
"Bahkan sapi tetangga yang baru lahiran saja dijenguk, terus orang-orang datang bawa uang atau hadiah."
Ia mengaku sebenarnya memahami bahwa tujuan tradisi itu adalah untuk mempererat hubungan antarwarga. Tetapi ketika frekuensinya terlalu sering, kondisi ekonomi setiap keluarga tentu berbeda-beda.
"Kalau sekali dua kali tidak masalah. Tapi kalau hampir tiap minggu harus nyumbang, lama-lama berat juga," tulisnya.
Banyak warganet yang ternyata memiliki pengalaman serupa.
Ada yang mengatakan bahwa di kampungnya, bukan hanya kelahiran sapi, tetapi kambing, pindah rumah, membeli kendaraan baru, hingga membuat kandang pun kadang menjadi alasan untuk mengadakan syukuran yang akhirnya membuat tamu merasa perlu membawa amplop.
Sebagian orang menilai tradisi ini memang memiliki nilai sosial yang tinggi. Ketika suatu saat kita mengalami musibah atau mengadakan hajatan, bantuan dari tetangga biasanya akan kembali kepada kita dalam bentuk yang sama.
Namun, tidak sedikit pula yang merasa budaya tersebut mulai bergeser menjadi semacam "utang sosial". Orang datang bukan lagi semata-mata karena ingin bersilaturahmi, melainkan karena takut dianggap pelit atau tidak ikut berpartisipasi jika tidak memberikan sumbangan.
Padahal, semangat gotong royong seharusnya lahir dari keikhlasan, bukan karena tekanan sosial.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa tradisi semacam ini tetap perlu dijaga karena menjadi salah satu perekat kehidupan masyarakat desa yang mulai luntur akibat perubahan zaman. Yang perlu diperbaiki bukan tradisinya, melainkan cara masyarakat memandangnya agar tidak menjadi beban bagi siapa pun.
Pada akhirnya, setiap daerah memiliki adat dan kebiasaannya masing-masing. Selama dilakukan dengan sukarela dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tradisi saling membantu tentu dapat menjadi sesuatu yang baik.
Menurutmu bagaimana? Apakah budaya saling menyumbang seperti ini masih relevan dipertahankan, atau justru sudah saatnya disesuaikan agar tidak memberatkan masyarakat?

Komentar
Posting Komentar