Belajarlah Agama Sampai Kau Tahu Bahwa Ayah yang Tidak Menafkahi Anak-anaknya, Hidupnya Akan Selalu Miskin
Ada pula ayah yang penghasilannya puluhan bahkan ratusan juta rupiah, tetapi anak-anaknya harus meminta-minta perhatian, biaya sekolah terlambat, kebutuhan mereka diabaikan, sementara sang ayah sibuk memenuhi keinginan dirinya sendiri.
Lalu, siapa sebenarnya yang lebih kaya?
Agama mengajarkan bahwa kekayaan bukan hanya soal banyaknya uang, tetapi juga keberkahan. Sebab harta yang tidak digunakan untuk menunaikan kewajiban bisa kehilangan nilai keberkahannya.
Dalam Islam, nafkah kepada anak bukanlah hadiah. Bukan pula bentuk kebaikan yang bisa diberikan sesuka hati. Itu adalah kewajiban yang melekat pada seorang ayah sesuai dengan kemampuannya.
Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa seseorang telah cukup berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.
Renungkanlah...
Untuk membeli rokok selalu ada uang.
Untuk nongkrong selalu ada biaya.
Untuk mengganti ponsel selalu ada anggaran.
Tetapi ketika anak meminta uang sekolah, membeli susu, berobat, atau sekadar meminta uang jajan, jawabannya selalu, "Ayah tidak punya uang."
Padahal masalahnya sering kali bukan tidak punya uang, melainkan salah menentukan prioritas.
Banyak orang ingin usahanya berkembang, ingin rezekinya dilipatgandakan, ingin hidupnya tenang. Namun mereka lupa bahwa di rumah ada anak-anak yang haknya belum mereka tunaikan.
Bagaimana mungkin berharap keberkahan jika kewajiban kepada keluarga sendiri justru diabaikan?
Jangan salah paham.
Bukan berarti setiap ayah yang hidup sederhana adalah ayah yang buruk. Tidak.
Banyak ayah yang bekerja dari pagi hingga malam, memeras keringat, bahkan tetap belum mampu memenuhi semua kebutuhan keluarga. Mereka tidak sedang lalai. Mereka sedang berjuang. Dan perjuangan seperti itulah yang dicintai Allah.
Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang sebenarnya mampu, tetapi sengaja menelantarkan anak-anaknya. Lebih mementingkan kesenangan pribadi daripada masa depan darah dagingnya sendiri.
Ingatlah...
Anak tidak pernah meminta dilahirkan.
Mereka hadir karena keputusan kedua orang tuanya.
Karena itu, mereka berhak mendapatkan nafkah, pendidikan, kasih sayang, dan perlindungan.
Mungkin hari ini anak-anak tidak berani menuntut haknya.
Mungkin mereka hanya diam saat melihat ayahnya lebih memilih menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Namun diamnya anak bukan berarti gugurnya kewajiban seorang ayah.
Belajarlah agama sampai kau tahu bahwa kemiskinan yang paling menyedihkan bukanlah sedikitnya harta, melainkan hilangnya keberkahan karena mengabaikan amanah yang Allah titipkan.
Sebab harta bisa dicari kembali.
Tetapi masa kecil anak yang terabaikan tidak akan pernah bisa diulang lagi.

Komentar
Posting Komentar