Wanita ini Curhat Kalau Dia Tak Suka Tradisi Tahlilan: Disuruh Layani Tamu Saat Ayahnya Meninggal Hingga Harus Kasih Amplop Padahal Lagi Berduka
Tanyaislamyuk - Tradisi tahlilan dalam rangka mendoakan orang yang meninggal kembali menjadi perbincangan setelah sejumlah warganet membagikan pengalaman mereka terkait kewajiban sosial yang muncul dalam tradisi tersebut, terutama soal pemberian amplop dan jamuan.
Melalui Threads, akun @/dey.dea mengungkapkan rasa kesalnya ketika keluarganya sedang berduka karena sang ayah meninggal. Ia mengaku masih dalam kondisi terpukul, tetapi harus memikirkan kebutuhan untuk para tamu yang datang, termasuk menyiapkan kopi.
“Bokap gue meninggal, orang ribet nyuruh gue bikin kopi buat bapak-bapak datang. Ngapain, gue lagi berduka,” tulisnya.
Cerita serupa dibagikan akun lain yang menyebut di daerahnya pemberian amplop tidak hanya dilakukan saat pemakaman, tetapi juga ketika acara ngaji atau tahlilan setelahnya.
Ia menyebut tradisi tersebut bisa berlangsung dalam beberapa tahap seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga peringatan 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun. Dalam setiap acara, keluarga disebut perlu menyiapkan amplop untuk orang yang hadir mengaji serta menyediakan makanan atau berkat untuk warga.
“Minimal per orang Rp30 ribu, ditambah nasi box untuk sekitar 100 orang. Bayangin kalau keluarga yang ditinggalkan tidak mampu,” tulisnya.
Perdebatan mengenai tradisi amplop dalam tahlilan pun kembali muncul. Sebagian masyarakat menganggap pemberian amplop dan jamuan sebagai bentuk penghormatan serta apresiasi bagi mereka yang membantu. Namun sebagian lainnya menilai tradisi tersebut sebaiknya tidak menjadi tuntutan yang membuat keluarga berduka merasa terbebani.

Komentar
Posting Komentar