Langsung ke konten utama

Rocky Gerung: Yang Tentara Asli Disuruh Masak, Giliran Calon Pegawai SPPG dan Manager Kopdes Disuruh Tentara-tentaraan, Sungguh Negara Yang Ntahlah!

 

Tanyaislamyuk - Pengamat politik dan filsuf publik, Rocky Gerung, kembali melontarkan kritik tajam terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilainya penuh paradoks. Dalam sebuah pernyataan yang ramai diperbincangkan publik, Rocky menyoroti fenomena yang menurutnya menunjukkan kebingungan arah kebijakan negara.

Menurut Rocky, ada ironi yang sulit dipahami oleh akal sehat. Di satu sisi, anggota TNI yang selama ini dilatih untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara justru mendapat tugas-tugas yang jauh dari fungsi utamanya, seperti terlibat dalam urusan dapur umum, distribusi makanan, hingga berbagai program sosial. Namun di sisi lain, calon pegawai program SPPG maupun calon manajer Koperasi Desa Merah Putih justru diwajibkan mengikuti pelatihan yang bernuansa semi-militer atau kedisiplinan ala tentara.

"Yang tentara asli disuruh masak, giliran calon pegawai SPPG dan manajer Kopdes disuruh tentara-tentaraan. Sungguh negara yang ntahlah," sindir Rocky.

Pernyataan tersebut segera memicu perdebatan di media sosial. Sebagian masyarakat menganggap kritik itu menggambarkan kondisi birokrasi yang semakin tidak jelas batas antara fungsi sipil dan militer. Mereka mempertanyakan mengapa tenaga profesional yang akan bekerja di bidang pelayanan masyarakat harus mengikuti pola pelatihan yang identik dengan dunia kemiliteran.

Di sisi lain, pendukung kebijakan tersebut berpendapat bahwa pelatihan kedisiplinan ala militer bertujuan membangun karakter, etos kerja, dan kemampuan kepemimpinan para peserta. Mereka menilai pendekatan itu bukan untuk mengubah pegawai sipil menjadi tentara, melainkan menanamkan nilai disiplin yang dianggap penting dalam menjalankan tugas.

Namun bagi Rocky, persoalannya bukan sekadar soal disiplin. Yang menjadi sorotan adalah konsistensi logika kebijakan negara. Ia menilai setiap institusi seharusnya menjalankan fungsi sesuai kompetensi dan mandat dasarnya. Ketika tentara menjalankan pekerjaan sipil, sementara pekerja sipil dibentuk dengan pola militer, maka muncul pertanyaan besar mengenai arah tata kelola pemerintahan.

Kritik tersebut kembali mengangkat diskusi lama mengenai batas peran militer dalam ruang sipil. Sejumlah pengamat menilai keterlibatan TNI dalam berbagai program non-pertahanan memang perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan dengan lembaga sipil yang seharusnya menjadi pelaksana utama.

Terlepas dari setuju atau tidak terhadap pernyataan Rocky Gerung, kritik ini berhasil menyentuh satu pertanyaan mendasar: apakah negara sedang menempatkan orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat?

Ketika tentara mengurus urusan dapur, sementara pegawai sipil menjalani pelatihan ala militer, publik pun bertanya-tanya. Apakah ini strategi besar yang memiliki tujuan jelas, atau justru tanda bahwa batas-batas fungsi lembaga negara semakin kabur?

Itulah pertanyaan yang hingga kini masih mengundang perdebatan luas di tengah masyarakat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dengan Mata Melotot, Pria Bali ini Melarang Umat Islam Merayakan Takbiran di Bali Saat Nyepi

  Tanyaislamyuk - Viral di media sosial, seorang pria Bali bernama Hercules meminta umat Islam melaksanakan takbiran di rumah saat Hari Raya Nyepi. Dengan nada tegas, ia menilai takbiran di luar rumah berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu saat menjalankan Nyepi. Video tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warganet. Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan panduan khusus jika Nyepi bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 H di Bali. Takbiran diperbolehkan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, petasan, atau bunyi-bunyian, dan berlangsung pukul 18.00–21.00 WITA. Perbedaan keyakinan adalah kenyataan di Indonesia. Jika semua pihak bisa saling menahan diri dan menghormati kesepakatan bersama, keharmonisan justru bisa semakin kuat.

Dunia Baru Saja Diguncang Kabar Netanyahu Tewas, Kini Foto Jasadnya Saat Dievakuasi Mulai Beredar

  Tanyaislamyuk - Dunia diguncang kabar bahwa Benjamin Netanyahu tewas setelah serangan besar menghantam wilayah Israel. Tak lama setelah kabar itu menyebar, muncul foto yang diklaim memperlihatkan proses evakuasi jasadnya. Namun hingga kini belum ada kemunculan Netanyahu di publik untuk membantah rumor tersebut. Kita tunggu saja kemunculannya di publik. Semenjak kabar ia mati oleh rudal Iran beredar, dia belum tampil di depan publik. Tapi bisa saja kematiannya memang tidak akan pernah dipublikasikan. Dan yang muncul nanti hanyalah “Netanyahu” baru dengan berbagai keanehan fisiknya. Mungkin saat ini sedang dilakukan audisi untuk mencari sosok yang mirip. Dunia hanya bisa menunggu… atau mungkin sedang menyaksikan sandiwara besar. Menurut kalian ini benar atau hanya sandiwara politik? Tulis pendapat kalian di komentar. Kalau kabar ini benar, apa dampaknya bagi Israel dan Iran?

Ternyata Indonesia Hanya Dijadikan ATM Bagi Industri Religi di Arab Saudi

Indonesia itu ATM Industri Religi di Arab Saudi,  Tapi Timbal Baliknya Sangat Miris. Jutaan umat Islam Indonesia berangkat ke Tanah Suci setiap tahun. Mereka datang dengan niat ibadah, pulang dengan doa. Namun tanpa disadari, di balik kesalehan itu Indonesia sedang menjalankan peran lain: menjadi ATM raksasa industri religi Arab Saudi. Uang mengalir deras. Sangat deras. Tapi penghormatan, pelayanan, dan posisi tawar? Justru terasa kering dan memprihatinkan. Umat Datang Membawa Devisa, Pulang Membawa Keluhan Biaya haji dan umrah dari Indonesia menyumbang puluhan triliun rupiah setiap tahun bagi Arab Saudi. Hotel mewah penuh oleh jemaah Indonesia, maskapai hidup dari jamaah Indonesia, katering dan transportasi berputar karena jamaah Indonesia. Namun anehnya, jamaah terbesar di dunia ini justru: - Harus antre 20–40 tahun - Ditempatkan di hotel jauh - Berdesakan ekstrem - Lanjut usia dipaksa bertahan di tengah sistem yang kejam Indonesia menyumbang paling banyak, tapi sering mendapat p...