Sebaliknya, ada banyak orang jujur yang harus bekerja keras setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pemandangan seperti inilah yang membuat sebagian orang bertanya-tanya: di mana letak keadilan Tuhan?
Kesalahan yang Sering Kita Lakukan: Menyamakan Keberhasilan dengan Kebaikan
Banyak orang menganggap kekayaan, jabatan, dan popularitas sebagai bukti bahwa seseorang sedang mendapat "hadiah" dari Tuhan. Padahal belum tentu demikian.
Keberhasilan duniawi sering kali hanya menunjukkan bahwa seseorang berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya di dunia. Itu tidak otomatis berarti ia benar, mulia, atau dicintai Tuhan.
Dalam banyak ajaran agama, kehidupan dunia justru dipandang sebagai ujian. Orang baik diuji dengan kesulitan, sementara orang jahat bisa diuji dengan kelimpahan.
Orang Jahat Memang Bisa Menang Cepat
Tidak dapat dipungkiri, orang yang mengabaikan moral sering memiliki jalan yang lebih mudah menuju keuntungan.
Mereka mungkin berbohong untuk mendapatkan proyek, menyuap untuk memperoleh jabatan, atau memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi. Dalam jangka pendek, cara-cara seperti ini memang sering menghasilkan kemenangan.
Namun sejarah menunjukkan bahwa kemenangan semacam itu sering tidak bertahan lama. Banyak tokoh yang tampak tak tersentuh akhirnya jatuh karena keserakahan mereka sendiri.
Kita Hanya Melihat Sebagian Kecil Cerita
Masalah lainnya adalah manusia cenderung melihat hasil akhir tanpa mengetahui seluruh proses.
Kita melihat seseorang kaya raya, tetapi tidak tahu kegelisahan, ketakutan, konflik keluarga, atau beban batin yang ia alami. Kita juga tidak tahu bagaimana akhir hidupnya nanti.
Sering kali yang tampak sebagai kesuksesan dari luar ternyata menyimpan kehancuran yang tidak terlihat.
Keadilan Tidak Selalu Datang Seketika
Salah satu alasan mengapa pertanyaan ini muncul adalah karena kita mengharapkan keadilan terjadi sekarang juga.
Padahal dalam kenyataannya, banyak bentuk keadilan membutuhkan waktu. Bahkan dalam sistem hukum manusia, pelaku kejahatan tidak selalu langsung dihukum pada hari yang sama ketika ia berbuat salah.
Jika keadilan manusia saja membutuhkan proses, apalagi keadilan Tuhan yang menurut keyakinan banyak agama mencakup seluruh perjalanan hidup manusia, bahkan setelah kematian.
Orang Baik Tidak Selalu Kalah
Sering kali kita mengukur kemenangan hanya dari uang dan jabatan. Padahal hidup memiliki ukuran yang lebih luas.
Ketenangan hati, keluarga yang harmonis, rasa syukur, kepercayaan orang lain, dan nama baik adalah bentuk keberhasilan yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang.
Banyak orang kaya hidup dalam ketakutan kehilangan hartanya, sementara ada orang sederhana yang tidur nyenyak setiap malam karena tidak membawa beban dari hasil menzalimi orang lain.
Pertanyaan yang Lebih Penting
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah:
"Kenapa orang jahat sering lebih berhasil?"
Tetapi:
"Berhasil menurut ukuran siapa?"
Karena jika keberhasilan hanya diukur dari kekayaan dan popularitas, maka banyak penjahat memang tampak menang. Namun jika keberhasilan juga mencakup ketenangan, kehormatan, dan pertanggungjawaban atas setiap tindakan, maka ceritanya bisa sangat berbeda.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang keadilan Tuhan bukan sekadar soal siapa yang lebih kaya atau lebih sukses hari ini. Pertanyaan itu mengajak manusia melihat kehidupan secara lebih luas daripada sekadar apa yang tampak di depan mata.
Sebab tidak semua yang terlihat menang benar-benar menang, dan tidak semua yang tampak kalah benar-benar kalah.

Komentar
Posting Komentar