Langsung ke konten utama

Jelang Lebaran, Bukan Cuma Baju yang Jadi Incaran, Tren Sewa Ponsel Mewah Banjir Peminat Demi Gaya dan Gengsi

 

Tanyaislamyuk - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi belanja masyarakat biasanya identik dengan pakaian baru, kue lebaran, hingga kebutuhan mudik. Namun belakangan ini, muncul fenomena yang bikin geleng-geleng kepala: tren menyewa ponsel mewah demi tampil “wah” saat Lebaran.

Alih-alih membeli, banyak orang kini memilih menyewa smartphone kelas atas hanya untuk beberapa hari. Tujuannya jelas—tampil lebih percaya diri saat berkumpul bersama keluarga, teman, atau bahkan sekadar untuk konten media sosial.

Fenomena ini bukan sekadar isu kecil. Di berbagai kota, jasa penyewaan ponsel premium justru mengalami lonjakan permintaan signifikan menjelang Lebaran. Unit-unit seperti flagship terbaru dari berbagai brand besar laris disewa, bahkan harus dipesan jauh-jauh hari.

Gaya atau Gengsi?

Banyak penyewa mengaku ingin “terlihat sukses” di momen Lebaran. Momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi, justru berubah menjadi panggung pencitraan. Tidak sedikit yang merasa minder jika tidak bisa menunjukkan simbol kemewahan di hadapan orang lain.

Padahal, jika dipikir lebih dalam, ini adalah ironi. Demi terlihat mampu, seseorang rela mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak dimiliki. Bahkan, ada yang sampai mengorbankan kebutuhan lain hanya untuk menjaga “image”.

Media Sosial Jadi Pemicu

Tak bisa dipungkiri, media sosial memegang peran besar dalam tren ini. Standar hidup yang ditampilkan secara online sering kali tidak mencerminkan realita. Hal ini mendorong banyak orang untuk ikut “bermain peran”, agar tidak dianggap tertinggal.

Foto OOTD Lebaran, selfie dengan keluarga, hingga konten “vibes orang sukses”—semuanya terasa lebih “valid” jika diambil dengan perangkat mahal. Inilah yang akhirnya mendorong tren sewa ponsel mewah makin menggila.

Antara Realita dan Ilusi

Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana masyarakat semakin terjebak dalam ilusi status sosial. Yang ditampilkan bukan lagi keaslian, melainkan citra yang dibentuk sementara.

Lebaran yang seharusnya menjadi momen kembali ke fitrah, justru bagi sebagian orang berubah menjadi ajang pembuktian—siapa yang paling terlihat “naik kelas”.

Refleksi

Tren ini memunculkan pertanyaan besar: apakah nilai seseorang kini benar-benar diukur dari apa yang ia tampilkan?

Ketika gengsi lebih diutamakan daripada kejujuran diri, maka yang terjadi bukan lagi kebahagiaan, melainkan tekanan sosial yang tak terlihat.

Mungkin sudah saatnya kembali memahami esensi Lebaran—bukan tentang apa yang terlihat mahal, tapi tentang hati yang kembali bersih, hubungan yang diperbaiki, dan kesederhanaan yang justru lebih bermakna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dengan Mata Melotot, Pria Bali ini Melarang Umat Islam Merayakan Takbiran di Bali Saat Nyepi

  Tanyaislamyuk - Viral di media sosial, seorang pria Bali bernama Hercules meminta umat Islam melaksanakan takbiran di rumah saat Hari Raya Nyepi. Dengan nada tegas, ia menilai takbiran di luar rumah berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu saat menjalankan Nyepi. Video tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warganet. Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan panduan khusus jika Nyepi bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 H di Bali. Takbiran diperbolehkan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, petasan, atau bunyi-bunyian, dan berlangsung pukul 18.00–21.00 WITA. Perbedaan keyakinan adalah kenyataan di Indonesia. Jika semua pihak bisa saling menahan diri dan menghormati kesepakatan bersama, keharmonisan justru bisa semakin kuat.

Dunia Baru Saja Diguncang Kabar Netanyahu Tewas, Kini Foto Jasadnya Saat Dievakuasi Mulai Beredar

  Tanyaislamyuk - Dunia diguncang kabar bahwa Benjamin Netanyahu tewas setelah serangan besar menghantam wilayah Israel. Tak lama setelah kabar itu menyebar, muncul foto yang diklaim memperlihatkan proses evakuasi jasadnya. Namun hingga kini belum ada kemunculan Netanyahu di publik untuk membantah rumor tersebut. Kita tunggu saja kemunculannya di publik. Semenjak kabar ia mati oleh rudal Iran beredar, dia belum tampil di depan publik. Tapi bisa saja kematiannya memang tidak akan pernah dipublikasikan. Dan yang muncul nanti hanyalah “Netanyahu” baru dengan berbagai keanehan fisiknya. Mungkin saat ini sedang dilakukan audisi untuk mencari sosok yang mirip. Dunia hanya bisa menunggu… atau mungkin sedang menyaksikan sandiwara besar. Menurut kalian ini benar atau hanya sandiwara politik? Tulis pendapat kalian di komentar. Kalau kabar ini benar, apa dampaknya bagi Israel dan Iran?

Kenapa Orang yang Paling Religius Pun Bisa Bercerai? Al-Quran Menyebut Satu Hal yang Sering Terlewat!

  Tanyaislamyuk - Kesalahan adalah pintu masuk yang indah, tapi tanpa satu ilmu ini, pintu itu tidak selalu membawa ke tempat yang seharusnya. Mereka sholat tahajud Bersama, hapal ayat-ayat tentang keluarga, dan dikenal sebagai pasangan yang religius. Lalu, mereka bercerai. Dan semua orang bertanya: " Bagaimana bisa ?". Tapi pertanyaan yang lebih penting justru tidak pernah diajukan: Apakah kesalahan tanpa satu hal ini cukup untuk menyelamatkan sebuah pernikahan?. Al-Quran menyebutnya dengan jelas, tapi hamper tidak pernah ada yang membahasnya. Kita diajarkan banyak hal sebelum menikah. Kewajiban istri, hak suami, dan rukun nikah. Tapi ada satu hal yang hamper tidak pernah diajarkan yang justru Allah sebut sebagai pondasi dari segalanya. Surah At-Thalaq ayat 2, diantara ayat-ayat tentang perceraian, Allah menyisipkan: " Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar ". Takwa. Bukan hanya ritual. Takwa yang hidup di dalam keputusa...