Miris! Seorang Anak Keliling Minta Dana Untuk Acara Tahlilan Alm Ibunya. Kenapa Harus Keluarga Mayit yang Menyediakan Makanan?
Tanyaislamyuk - Sebuah peristiwa mengiris hati terjadi di tengah masyarakat. Seorang anak terlihat berkeliling kampung sambil membawa proposal sederhana, meminta sumbangan untuk acara tahlilan mendiang ibunya. Bukan untuk biaya pengobatan, bukan pula untuk kebutuhan sekolah, melainkan demi menjamu tamu yang akan hadir pada rangkaian doa kematian.
Pemandangan ini sontak menuai keprihatinan. Di saat sang anak masih berduka karena kehilangan orang tua, ia justru dibebani kewajiban sosial yang tak ringan: menanggung konsumsi tahlilan.
Peristiwa tersebut kembali memunculkan pertanyaan lama yang tak kunjung selesai: kenapa justru keluarga mayit yang diwajibkan menyediakan makanan?
Tradisi yang Bergeser Makna
Dalam banyak literatur keislaman, para ulama menjelaskan bahwa keluarga yang ditinggal wafat justru berada dalam kondisi lemah, sedih, dan berduka. Karena itu, masyarakat seharusnya hadir untuk membantu, bukan menambah beban. Bahkan dalam beberapa riwayat, para sahabat Nabi justru mengantarkan makanan ke rumah keluarga yang berduka.
Namun dalam praktik di lapangan, tradisi itu seakan terbalik. Keluarga mayit kerap merasa “wajib” menjamu tamu, menyediakan konsumsi, bahkan menggelar acara besar agar tidak dianggap pelit atau tidak menghormati adat.
Akibatnya, tak sedikit keluarga yang terpaksa berutang, menjual barang, hingga seperti kasus ini menyuruh anaknya meminta dana ke tetangga.
Tekanan Sosial yang Tak Tertulis
Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan keluarga mayit menyediakan makanan. Namun tekanan sosial sering kali jauh lebih kuat daripada aturan. Rasa sungkan, takut dibicarakan, atau khawatir dicap “tidak tahu adat” membuat banyak keluarga memilih memaksakan diri.
“Kalau tidak bikin konsumsi, nanti dibilang aneh,” begitu alasan yang kerap terdengar di masyarakat.
Padahal, esensi tahlilan adalah doa, bukan jamuan.
Antara Agama dan Budaya
Sebagian tokoh masyarakat menilai sudah saatnya ada keberanian untuk meluruskan kembali makna tradisi. Budaya boleh dijaga, namun jangan sampai bertabrakan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Agama hadir untuk meringankan, bukan memberatkan. Jika sebuah tradisi justru menyusahkan orang yang sedang berduka, maka wajar jika dipertanyakan ulang.
Sebuah Cermin untuk Kita Semua
Kisah anak yang harus meminta-minta demi tahlilan ibunya bukan sekadar cerita sedih. Ia adalah cermin keras bagi masyarakat: apakah tradisi ini masih tentang empati, atau hanya soal gengsi?
Mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan jujur:
yang wafat siapa, yang berduka siapa, dan yang justru direpotkan siapa?
Jika jawabannya adalah keluarga yang ditinggalkan, maka ada yang perlu dibenahi bukan pada iman mereka, tetapi pada cara kita memaknai kebersamaan dan kepedulian.


Komentar
Posting Komentar