Tuhan yang kamu sembah di bulan Ramadhan itu sama dengan Tuhan yang kamu sembah diluar bulan Ramadhan. Lantas, mengapa caramu beribadah berbeda?
Tanyaislamyuk - Bulan tertentu sering membuat seseorang lebih dekat dengan ibadah. Suasana yang mendukung, lingkungan yang ikut berubah, dan semangat yang terasa bersama-sama membuat hati lebih mudah tersentuh. Namun setelah waktu itu berlalu, semangat yang dulu terasa kuat perlahan ikut menurun, seolah kedekatan itu hanya milik satu musim.
Padahal nilai ibadah tidak bergantung pada waktu semata, tetapi pada kesadaran yang terus dijaga. Jika dalam satu periode seseorang mampu menahan diri, menjaga lisan, dan memperbanyak kebaikan, sebenarnya kemampuan itu tetap ada di hari-hari lainnya. Yang berubah bukan kesempatannya, melainkan konsistensinya.
Pertanyaan seperti ini mengajak kita melihat kembali niat dalam beribadah. Apakah kita bergerak karena suasana, atau karena kebutuhan hati. Ketika ibadah dipahami sebagai kebutuhan, bukan kebiasaan musiman, maka kedekatan itu tidak akan selesai bersama pergantian waktu. Ia akan tetap hidup dalam keseharian, bahkan saat suasana tidak lagi sama.

Komentar
Posting Komentar