Di beberapa desa yang terdampak, halaman rumah, jalan lingkungan, hingga bagian dalam rumah masih dipenuhi endapan lumpur tebal. Warga terlihat saling bahu-membahu menggunakan sekop, cangkul, dan peralatan seadanya untuk membersihkan rumah mereka agar setidaknya bisa digunakan saat hari raya tiba.
“Harusnya kami sudah mulai masak untuk Lebaran, tapi sekarang masih bersihkan lumpur. Perabotan banyak yang rusak,” ujar salah seorang warga dengan nada sedih.
Banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi dan meluapnya sejumlah sungai di wilayah Aceh Tamiang tersebut merendam ratusan rumah warga. Meski air telah surut, lumpur pekat yang tertinggal menjadi pekerjaan berat bagi masyarakat.
Kondisi ini membuat aktivitas warga menjadi jauh lebih sulit. Selain harus membersihkan rumah, mereka juga harus memilah barang-barang yang masih bisa digunakan. Banyak perabot rumah tangga, kasur, hingga peralatan dapur yang terpaksa dibuang karena rusak terendam banjir.
Anak-anak pun terlihat ikut membantu orang tua mereka membersihkan rumah. Beberapa di antaranya bahkan terpaksa menunda aktivitas belajar karena rumah mereka belum sepenuhnya bersih dan nyaman untuk ditempati.
Sejumlah relawan dan aparat setempat turut turun tangan membantu proses pembersihan. Mereka membawa peralatan, air bersih, serta bantuan logistik bagi warga yang terdampak.
Pemerintah daerah juga dilaporkan telah menyalurkan bantuan berupa bahan makanan, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan dasar lainnya. Namun, bagi warga, proses pemulihan diperkirakan masih membutuhkan waktu.
Meski demikian, semangat kebersamaan terlihat kuat di tengah masyarakat. Warga saling membantu membersihkan rumah tetangga, mengangkat perabot, hingga memperbaiki fasilitas yang rusak.
Di tengah kelelahan dan kesedihan, mereka tetap berharap dapat merayakan Lebaran dengan sederhana bersama keluarga.
“Yang penting rumah sudah agak bersih dan kami bisa salat Id bersama keluarga,” kata seorang warga lainnya.
Bagi masyarakat Aceh Tamiang, Lebaran tahun ini mungkin tidak dirayakan dengan kemeriahan seperti biasanya. Namun, harapan untuk bangkit dari musibah tetap menyala di tengah lumpur yang masih tersisa.

Komentar
Posting Komentar