Bung Adian: Sekolahnya Online, Tapi Siswa Wajib Datang ke Sekolah Ngambil MBG. Ini yang Gila Siapa Sebenarnya?
Dalam pernyataannya, Adian mempertanyakan logika kebijakan yang mengharuskan siswa tetap datang ke sekolah hanya untuk mengambil jatah MBG, sementara proses belajar mengajar dilakukan secara online dari rumah. “Sekolahnya online, tapi siswanya disuruh datang ke sekolah cuma buat ambil makan. Ini yang gila siapa sebenarnya?” ujar Adian dengan nada keras.
Kritik tersebut langsung memantik perhatian publik. Banyak pihak menilai kebijakan ini justru membebani siswa dan orang tua, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari sekolah atau memiliki keterbatasan akses transportasi. Alih-alih mempermudah, aturan ini dianggap kontradiktif dan tidak efisien.
Program MBG sendiri digagas pemerintah sebagai upaya meningkatkan gizi anak-anak sekolah serta menekan angka stunting. Namun, implementasi di lapangan dinilai belum matang. Sejumlah pengamat pendidikan menyebut kurangnya koordinasi antara kebijakan pendidikan dan distribusi program sosial menjadi akar persoalan.
Di sisi lain, pihak terkait beralasan bahwa distribusi MBG secara langsung di sekolah dilakukan untuk memastikan makanan diterima tepat sasaran dan dalam kondisi layak konsumsi. Namun, argumen ini belum mampu meredam kritik, terutama karena tidak adanya skema alternatif bagi siswa yang tidak bisa datang langsung.
Fenomena ini menambah daftar panjang polemik kebijakan pendidikan di Indonesia, khususnya pasca pandemi yang memaksa sistem belajar beradaptasi secara cepat. Publik kini menanti respons pemerintah, apakah akan melakukan evaluasi atau tetap mempertahankan mekanisme yang dinilai janggal tersebut.
Perdebatan pun terus bergulir. Di tengah niat baik meningkatkan gizi siswa, muncul pertanyaan besar: apakah kebijakan ini benar-benar berpihak pada kemudahan siswa, atau justru menjadi beban baru yang tidak perlu?

Kebijakan meledak-ledak. Selain pidato yang meledak-ledak, kebijakan jg meledak-ledak. Tanpa dipikir untung ruginya, lansung dibuat kebijakan yg justru merugikan masyarakat.
BalasHapus