Tanyaislamyuk - Ada satu pertanyaan yang lebih besar dari semua perdebatan ini. MBS mengakui Barat menggunakannya untuk kepentingan geopolitik. Dugin dari Rusia menyebutnya alat imperialis. Dua musuh bebuyutan, sepakat dalam satu hal: perpecahan umat Islam menguntungkan mereka, kapitalis barat.
Sementara kita? antara yang mengaku penegak sunnah dangan yang memihak islam nusantara - aswaja, sibuk saling serang di kolom komentar. Siapa yang sedang menertawakan kita?
Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan ini.
"Bersegeralah beramal saleh sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang masih beriman, di sore harinya sudah kafir." (HR. Muslim)
Bukan fitnah yang datang sekali lalu selesai. Tapi gelombang demi gelombang, belum usai yang satu, datang yang lebih gelap, lebih membingungkan. Sampai umat tidak lagi bisa membedakan mana kawan, mana lawan. Mana yang membela Islam, mana yang justru menghancurkannya dengan mengatasnamakan Islam.
Dan yang paling berbahaya: setiap gelombang datang terasa seperti kebenaran.
Di tengah semua ini, ada satu hal yang tidak pernah diperdebatkan siapapun dari kubu manapun: Rasulullah ﷺ mencintai umatnya. Semua umatnya.
Beliau menolak tawaran harta dan takhta Quraisy, bukan karena tidak mau berkuasa. Tapi karena risalah ini bukan miliknya untuk diperjualbelikan kepada kepentingan siapapun.
Itulah Islam yang paling murni. Bukan yang lahir dari permintaan Washington. Bukan yang tumbuh dari aliansi pedang dan kolonialisme. Tapi yang dibawa seorang lelaki dari Makkah, dengan kelembutan yang tidak bisa dimanipulasi oleh siapapun.
Kamu tidak harus memilih kubu hari ini.
Cukup satu pertanyaan jujur: dari mana Islam yang kupraktikkan berasal? Siapa yang mengajarkannya? Apakah sanadnya sampai kepada Rasulullah ﷺ?
Karena di hari kiamat, yang ditanya bukan mazhab mana yang kamu ikuti, tapi apa yang kamu lakukan dengan cintamu kepada Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan Islam untuk satu kerajaan atau satu ideologi. Beliau meninggalkannya untuk kita semua.
Jaga ia, dengan ilmu, adab, dan cinta yang tidak memecah belah.

Komentar
Posting Komentar