Tanyaialsmyuk - Setiap kali merayakan Imlek, Muslim Tionghoa di Indonesia mengaku masih merasakan dilema antara mempertahankan kebudayaan leluhurnya atau mengikuti ajaran Islam.
Sejumlah Muslim Tionghoa bercerita bahwa keputusan mereka untuk tetap merayakan Imlek kerap dipertanyakan. Padahal, niatnya adalah melestarikan budaya leluhur mereka.
Sebaliknya, ada yang tidak pernah lagi merayakan Imlek sejak menjadi mualaf.
Dilema seperti ini kerap menghantui Muslim Tionghoa yang menjadi "minoritas ganda" di Indonesia, menurut peneliti Universitas Malaysia, Hew Wai Weng. Apa penyebabnya?
Lilik Sugianto Lie memeluk islam sejak kecil, dan dia terbaisa merayakan imlek ke kelenteng Bersama keluarganya. Lilik mengaku sering dikritik oleh umat muslim lainnya.
Melinda, mualaf Tionghoa lainnya, punya sikap sama. Saat perayaan Imlek pada 2017, Melinda mengenakan hijab untuk pertama kalinya dan mengikuti sembahyang leluhur.
Sebaliknya, Hans Ahmad Yamin, tidak pernah lagi merayakan imlek semenjak menjadi mualaf pada 2022. Menurut Hans, merayakan imlek tergolong sebagai 'tasyabbuh'.
Peneliti Universitas Malaysia, Hew Wai Weng mengatakan dilema semacam ini kerap menghantui Muslim Tionghoa di Indonesia sebagai minoritas ganda.
Masih ada pula perdebatan soal Imlek sebagai praktik budaya atau perayaan agama Konghucu. Anehnya, perdebatan itu hanya terjadi di Indonesia.

Komentar
Posting Komentar