Tanyaislamyuk - Pernahkah kita merenung, mengapa Tarawih yang kita jalankan hari ini memiliki format yang begitu rapi, sangat berbeda dengan suasana sunyi di awal kemunculannya? Di suatu malam di Madinah, Rasulullah SAW pernah melakukan sebuah tindakan yang mengejutkan: beliau memilih "bersembunyi" di dalam kamarnya meski Masjid Nabawi sudah penuh sesak oleh jamaah yang menanti dengan antusiasme meluap.
Nabi Muhammad SAW, dengan segala kearifannya, menahan diri bukan karena enggan memimpin, melainkan karena rasa cintanya yang melampaui zaman. Beliau berucap, "Aku takut shalat ini diwajibkan atas kalian, dan kalian tidak akan mampu melaksanakannya."
Beliau memilih membatasi ruang publik saat itu demi melindungi umat masa depan yang mungkin lemah atau terbatas waktunya, agar ibadah ini tetap menjadi ruang sukarela yang menyejukkan, bukan beban hukum yang memberatkan.
Namun, sejarah berputar. Di era Khalifah Umar bin Khattab, keresahan melihat jamaah yang terfragmentasi memicu sebuah visi kenegaraan yang besar. Umar memutuskan untuk menyatukan serpihan-serpihan kelompok kecil itu menjadi satu barisan tunggal yang megah. Inilah intervensi yang meruntuhkan status sosial; momen di mana pejabat dan buruh berdiri setara di bawah lantunan ayat yang sama.
Setiap kali kita melangkah ke masjid malam ini, kita sebenarnya sedang merayakan dua kebaikan: perlindungan pribadi dari Sang Nabi dan persaudaraan publik yang dirajut oleh Sang Khalifah. Mari jalani Tarawih bukan sebagai beban rutin, tapi sebagai cara kita menemukan kembali kemanusiaan di samping saudara-saudara kita.

Komentar
Posting Komentar