Tanyaislamyuk - Sejarah Mesir Kuno selama ribuan tahun dikenal sangat kaku. Gaya seninya begitu-begitu saja, dan dewa-dewinya disembah tanpa henti. Stabil, tenang, dan mapan.
Namun, stabilitas itu hancur lebur secara mendadak di pertengahan abad ke-14 SM.
Pelakunya adalah Amenhotep IV, Firaun yang naik takhta menggantikan ayahnya. Alih-alih melanjutkan "era emas" para pendahulunya, ia justru melakukan perombakan radikal yang mengguncang fondasi peradaban Mesir.
- Ganti Identitas: Selamat Tinggal Amenhotep
Langkah pertamanya bikin para pendeta jantungan. Ia membuang nama aslinya "Amenhotep" (yang mengandung unsur Dewa Amun) dan mengubahnya menjadi Akhenaten (artinya: Sosok yang bermanfaat bagi Aton). Siapa Aton? Dia adalah Dewa Matahari dalam wujud cakram surya. Akhenaten tidak mau lagi rakyatnya menyembah banyak dewa. Ia ingin mereka hanya menyembah Satu Tuhan, yaitu Aton.
- Operasi "Menghapus Dewa"
Ini bukan sekadar ganti agama, tapi perang terbuka. Akhenaten memulai gerakan ikonoklasme. Ia memerintahkan pasukannya untuk memahat ulang sejarah. Nama dewa tertinggi sebelumnya, Amun dan istrinya Mut, dihapus paksa dari tembok-tembok kuil dan monumen suci di seluruh negeri. Tradisi politeisme (banyak dewa) yang sudah mengakar ribuan tahun, ia coba lenyapkan dalam sekejap.
- Pindah Ibu Kota & Fisik yang Aneh
Belum puas, ia memindahkan ibu kota ke tengah gurun tandus (Amarna). Dan yang paling misterius... ia memerintahkan dirinya digambarkan dengan fisik yang tidak proporsional. Kepala lonjong, perut buncit, dan pinggul lebar. Jauh berbeda dari Firaun lain yang selalu dilukis kekar dan sempurna.
Kesimpulannya: Mengapa ia begitu gigih menghapus dewa-dewa lama demi satu dewa tunggal? Apakah ia seorang visioner yang mengenal konsep "Tuhan Yang Maha Esa" pertama kali? Atau ia hanya penguasa yang terobsesi pada kekuasaan mutlak?

Komentar
Posting Komentar