Jika Islam Berarti Berserah Diri Kepada Tuhan, Maka Sesungguhnya Kita Semua Hidup dan Mati dalam Islam
Tanyaislamyuk - Johann Wolfgang von Goethe menempati posisi unik dalam sejarah intelektual Eropa. Ia bukan tokoh agama, juga bukan penulis yang berbicara dari dalam tradisi Islam, tetapi seorang pemikir yang berani menyeberangi batas budaya dan keyakinan. Ketertarikannya pada Islam lahir dari pembacaan langsung terhadap Al-Qur’an dan teks-teks Timur, yang kemudian membentuk cara pandangnya tentang Tuhan, manusia, dan kepasrahan.
Ucapan Goethe, “If Islam means submission to God, then we all live and die in Islam,” tidak dimaksudkan sebagai pernyataan keagamaan formal, melainkan refleksi filosofis. Ia melihat bahwa manusia, sejauh apa pun merasa berdaulat atas hidupnya, tetap berjalan dalam keterbatasan dan akhirnya menyerah pada kehendak Tuhan saat kematian tiba. Dalam pengertian itulah Goethe menggunakan kata “Islam” sebagai simbol kepasrahan total, sebuah kondisi eksistensial yang dialami semua manusia tanpa kecuali.
Pemikiran ini tercermin dalam West-östlicher Divan (kumpulan puisi dan refleksi yang ditulis Johann Wolfgang von Goethe dan diterbitkan tahun 1819) serta surat-surat pribadinya, di mana Islam dipahami bukan sebagai label identitas, tetapi sebagai sikap batin. Kalimat tersebut menjadi kuat justru karena datang dari luar tradisi Islam, dan karena ia berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun: bahwa hidup dijalani, dan kematian diterima, dalam batas kehendak Yang Maha Kuasa.

Komentar
Posting Komentar