Tanyaislamyuk - Diantara fenomena yang terus berulang di tengah umat adalah praktik tabarruk (ngalap berkah) dan tawassul di kuburan orang-orang yang dianggap wali, termasuk kuburan Sunan Ampel. kuburan tersebut dihias layaknya pengantin.
Fenomena ini patut dikritisi karena menyangkut perkara paling agung dalam Islam yaitu Tauhid.
Berkah (al-barakah) adalah kebaikan yang banyak dan terus bertambah, dan sumber keberkahan hanyalah Allah. Allah berfirman:
“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala keberkahan.”
(QS. Al-Mulk: 1)
Tidak ada satu pun orang yang di anggap wali, maupun orang shalih yang memiliki keberkahan dzatiyyah (melekat pada dirinya) setelah wafatnya, apalagi kuburannya. Segala bentuk keyakinan bahwa tempat tertentu dapat mendatangkan berkah secara khusus tanpa adanya penjelasan wahyu adalah batil.
Para sahabat adalah generasi yang paling cinta kepada Rasulullah. Namun, tidak pernah satu pun dari mereka yang mengambil berkah dari kuburan Beliau, apalagi dari kuburan selain beliau. Jika tabarruk di kuburan adalah kebaikan, tentu para sahabat adalah orang pertama yang melakukannya.
Tawassul yang disyariatkan adalah:
Bertawassul dengan nama dan sifat Allah
Bertawassul dengan amal shalih
Bertawassul dengan doa orang shalih yang masih hidup.
Adapun tawassul dengan orang yang sudah mati, terlebih dengan mendatangi kuburannya, berdoa di sana, atau meyakini doanya lebih mustajab karena “kedekatan wali dengan Allah”, maka ini tidak pernah diajarkan Nabi, dan merupakan perbuatan syirik.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan.”
(HR. Abu Dawud)

Komentar
Posting Komentar