Langsung ke konten utama

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal(BPJPH) Sebut Jual Babi & Alkohol Tidak Masalah, Asal Cantumkan Nonhalal

 

Tanyaislamyuk - Negara tidak melarang produk non-halal beredar, termasuk babi dan alkohol. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menegaskan, penjualan produk tersebut sah selama pelaku usaha mencantumkan keterangan non-halal secara jelas pada produknya.

Kepala BPJPH Haikal Hassan memastikan posisi negara dalam hal tersebut. “Negara cuma minta dicantumkan bahwa itu non-halal, itu saja,” ujar Haikal Hassan dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (9/2/2026).

Haikal menambahkan, logo halal hanya untuk produk halal. Sementara logo non-halal untuk produk non-halal.

Pernyataan ini ia maksudkan untuk meluruskan kesalahpahaman terkait seiring penerapan kebijakan wajib halal pada Oktober 2026, terutama yang beredar di media sosial.
Haikal menyebut, kebingungan publik banyak muncul karena kurangnya pemahaman terhadap sertifikasi halal.

“Kami sekarang tengah mengupayakan sosialisasi yang baik karena mengingat di sosmed itu luar biasa hambatan dalam halal menuju WHO, hambatan ini karena nggak memahami,” kata Haikal. “Sosialisasi ini penting agar masyarakat mengerti, bukan untuk membatasi,” lanjutnya.

Untuk itu, BPJPH menyiapkan ekosistem halal di 119 kabupaten, melibatkan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan. “Ada mulai dari satgasnya, peraturan daerah, hingga anggaran dari Kemendagri melalui PP Nomor 25 Tahun 2025,” jelas Haikal.

Tidak hanya di tingkat birokrasi, BPJPH juga melibatkan tokoh daerah dan gubernur agar kebijakan halal diterima masyarakat, termasuk di wilayah pariwisata seperti Bali. Haikal menyinggung acara di Sentul sebagai kesempatan menjelaskan kebijakan ini langsung kepada gubernur.

Ia mencontohkan pertemuannya dengan Gubernur Bali Wayan Koster, yang awalnya memiliki pertanyaan terkait standar halal.

“Standar halal yang jelas justru bisa menjadi daya tarik wisata,” ujar Haikal.

Indonesia pun mulai dilirik dunia. Haikal menyebut bahwa sejumlah negara, termasuk Malaysia, Filipina, dan Vietnam, menjadikan Indonesia sebagai rujukan dalam penyelenggaraan jaminan produk halal.

“Vietnam bahkan meminta kami men-setup sistem persis seperti BPJPH di sana. Perusahaan Malaysia datang ke Indonesia untuk mendapatkan sertifikat halal agar bisa ekspor,” ujarnya.

Tidak kalah penting, BPJPH membantah kabar bahwa Indonesia diminta menghentikan sertifikasi halal setelah bergabung dengan Board of Peace (BOP). Haikal menegaskan, informasi itu hoaks. “Amerika sudah menerapkan halal sejak 1974 melalui IFANCA,” katanya.

Pernyataan resmi dari USDA dan USTR pun menyatakan kesediaan mengikuti ketentuan BPJPH. Bahkan BPJPH juga telah bertemu langsung dengan para pengusaha asal Amerika Serikat yang beroperasi di Indonesia. Dalam pertemuan di Hotel Grand Hyatt yang dihadiri 82 pengusaha dan wakil Kemenko Ekonomi, mereka menyatakan dukungan terhadap kebijakan sertifikasi halal di Indonesia.

Di sisi lain, BPJPH mempercepat sertifikasi halal untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), program penyediaan makanan bergizi bagi siswa sekolah. Kepala dapur MBG dilatih menjadi penyelia halal untuk memastikan setiap bahan, mulai dari minyak hingga kecap, sesuai standar sebelum sampai ke meja siswa.

“Kepala dapur kita latih untuk menjadi penyelia halal. Jadi dia bisa evaluasi semua bahan,” kata Haikal.

Penyelia halal ini menjadi perpanjangan tangan BPJPH di lapangan, mampu langsung mengambil tindakan jika ada bahan atau proses yang tidak sesuai standar. Hingga kini, BPJPH telah melatih 3.168 kepala SPPG, masih jauh dari target 20.000.

Haikal menekankan, penyelia halal adalah ujung tombak menjaga kehalalan produk yang dikonsumsi masyarakat. Program ini diharapkan memperkuat ekosistem halal nasional sekaligus mendukung visi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dengan Mata Melotot, Pria Bali ini Melarang Umat Islam Merayakan Takbiran di Bali Saat Nyepi

  Tanyaislamyuk - Viral di media sosial, seorang pria Bali bernama Hercules meminta umat Islam melaksanakan takbiran di rumah saat Hari Raya Nyepi. Dengan nada tegas, ia menilai takbiran di luar rumah berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu saat menjalankan Nyepi. Video tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warganet. Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan panduan khusus jika Nyepi bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 H di Bali. Takbiran diperbolehkan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, petasan, atau bunyi-bunyian, dan berlangsung pukul 18.00–21.00 WITA. Perbedaan keyakinan adalah kenyataan di Indonesia. Jika semua pihak bisa saling menahan diri dan menghormati kesepakatan bersama, keharmonisan justru bisa semakin kuat.

Dunia Baru Saja Diguncang Kabar Netanyahu Tewas, Kini Foto Jasadnya Saat Dievakuasi Mulai Beredar

  Tanyaislamyuk - Dunia diguncang kabar bahwa Benjamin Netanyahu tewas setelah serangan besar menghantam wilayah Israel. Tak lama setelah kabar itu menyebar, muncul foto yang diklaim memperlihatkan proses evakuasi jasadnya. Namun hingga kini belum ada kemunculan Netanyahu di publik untuk membantah rumor tersebut. Kita tunggu saja kemunculannya di publik. Semenjak kabar ia mati oleh rudal Iran beredar, dia belum tampil di depan publik. Tapi bisa saja kematiannya memang tidak akan pernah dipublikasikan. Dan yang muncul nanti hanyalah “Netanyahu” baru dengan berbagai keanehan fisiknya. Mungkin saat ini sedang dilakukan audisi untuk mencari sosok yang mirip. Dunia hanya bisa menunggu… atau mungkin sedang menyaksikan sandiwara besar. Menurut kalian ini benar atau hanya sandiwara politik? Tulis pendapat kalian di komentar. Kalau kabar ini benar, apa dampaknya bagi Israel dan Iran?

Ternyata Indonesia Hanya Dijadikan ATM Bagi Industri Religi di Arab Saudi

Indonesia itu ATM Industri Religi di Arab Saudi,  Tapi Timbal Baliknya Sangat Miris. Jutaan umat Islam Indonesia berangkat ke Tanah Suci setiap tahun. Mereka datang dengan niat ibadah, pulang dengan doa. Namun tanpa disadari, di balik kesalehan itu Indonesia sedang menjalankan peran lain: menjadi ATM raksasa industri religi Arab Saudi. Uang mengalir deras. Sangat deras. Tapi penghormatan, pelayanan, dan posisi tawar? Justru terasa kering dan memprihatinkan. Umat Datang Membawa Devisa, Pulang Membawa Keluhan Biaya haji dan umrah dari Indonesia menyumbang puluhan triliun rupiah setiap tahun bagi Arab Saudi. Hotel mewah penuh oleh jemaah Indonesia, maskapai hidup dari jamaah Indonesia, katering dan transportasi berputar karena jamaah Indonesia. Namun anehnya, jamaah terbesar di dunia ini justru: - Harus antre 20–40 tahun - Ditempatkan di hotel jauh - Berdesakan ekstrem - Lanjut usia dipaksa bertahan di tengah sistem yang kejam Indonesia menyumbang paling banyak, tapi sering mendapat p...