Parlemen akhirnya mengetuk palu. Komisi XI DPR RI memilih Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk lima tahun ke depan. Keputusan ini lahir dari rapat internal tertutup, dan akan segera disahkan di Paripurna. Di balik proses cepat itu, pasar mulai bertanya: ada apa di balik pergantian mendadak ini?
Nama Thomas langsung jadi sorotan karena bukan figur sembarangan. Ia adalah keponakan Presiden Prabowo Subianto, menggantikan Juda Agung yang mundur tiba-tiba. Skema “tukar posisi” antara lini fiskal dan moneter ini memicu kekhawatiran tersendiri, terutama soal jarak antara bank sentral dan kekuasaan politik yang selama ini dijaga ketat.
Akademisi pun angkat suara. Guru Besar Universitas Airlangga menilai langkah ini berpotensi memicu respons negatif pelaku pasar. Isunya bukan soal kapasitas semata, melainkan persepsi. Di dunia keuangan, persepsi sering kali bergerak lebih cepat daripada data, dan efeknya bisa terasa ke nilai tukar, obligasi, hingga IHSG.
Meski Thomas menegaskan telah mundur dari Partai Gerindra demi menjaga independensi BI, publik tetap mencermati arah kebijakan ke depan. Apalagi ia membawa konsep sinergi fiskal-moneter yang agresif, di tengah kondisi global yang rapuh dan tekanan eksternal yang belum reda.
Kini sorotan mengarah ke Bank Indonesia. Apakah independensi benar-benar tetap utuh, atau justru mulai diuji di saat ekonomi membutuhkan jangkar kepercayaan? Pasar menunggu, dan biasanya… pasar tidak pernah sabar.


Komentar
Posting Komentar