Seorang Warganet Akui Miris Melihat Hajatan di Kampungnya: “Kata Orang Itu Goyong Royong, Tapi Buat Keluargaku Itu Seperti Penjarahan Berkedok Rewang”
Tanyaislamyuk - Sebuah unggahan warganet di media sosial mendadak ramai diperbincangkan setelah ia menceritakan pengalaman pahit keluarganya saat menggelar hajatan di kampung. Alih-alih merasakan semangat gotong royong, ia justru mengaku keluarganya seperti menjadi korban “penjarahan” yang dilegalkan atas nama tradisi rewang.
Dalam unggahannya, warganet tersebut menuturkan bahwa sejak pagi hari, sejumlah warga berdatangan ke rumah keluarganya. Namun bukan untuk membantu tanpa pamrih, melainkan membawa pulang berbagai bahan makanan dan perlengkapan dapur hajatan, mulai dari beras, gula, minyak, hingga lauk mentah.
“Katanya ini budaya gotong royong. Tapi yang kami rasakan justru seperti penjarahan berjamaah. Semua diambil, atas nama rewang,” tulisnya.
Ia mengungkapkan, keluarganya harus menyiapkan bahan makanan dalam jumlah besar bukan hanya untuk keperluan acara, tetapi juga untuk “jatah pulang” para warga yang datang membantu. Akibatnya, biaya hajatan membengkak jauh dari perhitungan awal.
Lebih miris lagi, menurutnya, praktik tersebut sudah dianggap wajar dan sulit ditolak. Jika tuan rumah berani membatasi atau menegur, mereka berisiko dicap pelit, tidak tahu adat, atau bahkan dikucilkan secara sosial.
“Kalau nggak ngasih, nanti jadi bahan omongan satu kampung. Jadi terpaksa diam, meski hati sakit,” lanjutnya.
Unggahan ini pun menuai beragam reaksi dari warganet. Sebagian membenarkan pengalaman serupa dan menyebut tradisi rewang di sejumlah daerah telah bergeser makna—dari gotong royong menjadi beban sosial. Namun, ada pula yang membela tradisi tersebut, dengan alasan rewang sejatinya membantu meringankan pekerjaan tuan rumah, bukan untuk dipersoalkan secara hitam-putih.
Pengamat sosial menilai, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam praktik gotong royong di masyarakat. Ketika tradisi tidak lagi dibarengi empati dan kesadaran batas, semangat kebersamaan bisa berubah menjadi tekanan sosial yang merugikan pihak tertentu.
Perdebatan ini sekaligus membuka ruang refleksi: apakah semua tradisi harus dijalankan apa adanya, atau justru perlu disesuaikan dengan kondisi zaman dan kemampuan ekonomi keluarga?
Kisah warganet tersebut menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan sebuah hajatan, bisa tersimpan cerita sunyi tentang keluarga yang terpaksa menanggung beban demi menjaga nama baik dan harmoni sosial.






Komentar
Posting Komentar