Tanyaislamyuk - Islam hari ini tidak sedang diserang dari luar. Islam sedang dipermalukan oleh orang-orang yang mengaku membelanya. Teriakan “bela agama” makin keras, tapi shalat makin malas. Status Islami makin rajin, tapi kejujuran makin langka.
Media sosial penuh dengan orang yang merasa paling islami. Sedikit beda pendapat, langsung dicap sesat. Sedikit kritis, dituduh liberal. Ayat Al-Qur’an dijadikan peluru, hadis dipakai pentungan. Semua demi satu hal: menang debat, bukan mencari kebenaran.
Lebih memuakkan lagi, ustaz viral lebih dipercaya daripada ulama berilmu. Yang penting keras, bukan benar. Yang penting ramai, bukan lurus. Ceramah dipotong, dipelintir, lalu disebar demi view dan endorse. Agama berubah jadi komoditas, iman jadi konten musiman.
Ironi paling telanjang:
Masjid kosong saat Subuh, tapi live TikTok penuh hujatan.
Sedekah pelit, tapi nyinyir dermawan.
Zina dibela dengan dalih “hak pribadi”, tapi kesalahan kecil orang lain dibesar-besarkan seolah kiamat.
Yang lebih parah, amar ma’ruf nahi munkar sudah kehilangan ruh. Yang tersisa hanya marah, hinaan, dan kebencian. Mengaku ingin menyelamatkan umat, tapi justru mendorong orang menjauh dari Islam.
Sementara umat sibuk ribut di kolom komentar, riba merajalela, keluarga hancur, anak muda kehilangan arah, dan kemiskinan dianggap urusan sampingan. Islam seolah hanya penting saat dipakai untuk menyerang, bukan saat harus diperjuangkan secara nyata.
Jangan salahkan Islam jika orang muak. Salahkan perilaku umatnya yang menjadikan agama sebagai panggung ego. Islam tidak butuh pembela yang kasar dan sok suci. Islam butuh hamba yang tunduk, jujur, dan berakhlak.
Jika hari ini Islam tampak garang dan menakutkan, mungkin karena yang paling berisik bukan yang paling paham. Sudah waktunya berhenti merasa paling benar dan mulai merasa paling butuh taubat.

Komentar
Posting Komentar