Benarkah Nabi Poligami Karena Nafsu?
Sering kita dengan tuduhan bahwa pernikahan Nabi didasari oleh keinginan duniawi. Faktanya: Kenapa beliau setiap pada satu wanita di masa mudanya, dan baru menikah lagi di masa tuanya?.
25 Tahun, Satu Cinta
Fakta yang sering dilupakan: Nabi Muhammad menghabiskan masa paling prima dalam hidupnya (usia 25-50 tahu) hanya dengan satu istri: Khadijah. Padalah, budaya Arab saat itu membolehkan poligami tanpa batas.
Jika beliau gila wanita, mengapa beliau menghabiskan masa mudahnya dengan wanita yang jauh lebi tua (40 tahun), janda, dan setia padanya hingga akhir hayat? Ini adalah bukti bahwa monogami adalah watak asli beliau.
Poligami Dimulai Saat Krisis
Nabi baru menikah lagi setelah Khadijah wafat (saat itu usia Nabi sudah 50+ tahun). Fase poligami di Madinah terjadi di tengah kondisi perang. Banyak sahabat gugur, meninggalkan janda dan anak yatim tanpa pelindung.
Di masa itu, tidak ada dana pensiun atau panti asuhan. Menikahi janda pahlawan perang adalah solusi sosial untuk menyelamatkan mereka dari kemiskinan dan kehinaan.
Jika motifnya nasfu, Nabi bisa saja memilih gadis-gadis tercantik di Arab. Tapi lihatlah siapa yang beliau nikahi:
1. Sawda binti Zam'a : Janda tua yang dinikahi untuk melindunginya dari siksaan kaum musyrik.
2. Ummu Salamah : Janda tua dengan 4 anak yatim.
3. Zainab binti Khuzaimah : Janda miskin yang dijuluki "Ibu Orang Miskin". Pernikahan ini berbasis belas kasih, bukan nafsu.
Di zaman itu, pernikahan adalah alat diplomasi terkuat.
- Menikahi Juwairiyah membuat seluruh suku Bani Mustaliq memeluk Islam dan ratusan tawanan perang dibebaskan.
- Menikahi Safiyyah (putri kepala suku Yahudi) adalah upaya rekonsiliasi damai.
- Menikahi Ummu Habiba (putri Abu Sufyan, musuh besar Islam) melunakkan hati sang ayah. Nabi mengorbankan kenyamanan rumah tangganya demi perdamaian negara.
Pernikahan dengan Zainab binti Jahsy sering disalahpahami. Tujuannya adalah perintah Tuhan untuk Menghapus Hukum Adopsi Jahiliyah. Dulu, anak angkat dianggap sama persis dengan anak kandung. Ini kacau secara nasab.
Nabi diperintah menikahi mantan istri anak angkatnya (Zaid) untuk menegaskan bahwa anak angkat bukan anak kandung secara hukum. Nabi sempat takut dan berat hati melakukannya, tapi ini tugas legislasi, bukan asmara.
Jangan Menilai Abad ke-7 dengan Kacamata Abad 21
Kritik soal usia Aisyah seringkali ahistoris. Di masa itu (dan di Eropa aban pertengahan), kedewasaan diukur dari Pubertas (Biologis), bukan angka usia. Aisyah sudah baligh saat menikah. Bukti terkuat: Musuh-musuh Nabi (Abu Jahal, Yahudi Madinah) tidak pernah menjadikan isu ini sebagai bahan ejekan. Artinya, bagi masyarakat saat itu penikahan ini normal dan sah.
Al-Quran sendiri memperingatkan, "Kamu tidak akan bisa adil (soal perasaan), walau kamu sangat ingin". Nabi sangat ketat soal keadilan nafkah dan giliran. Tapi soal hati, beliau manusia biasa yang condong pada Aisyah.
Poligami Nabi dilakukan dengan beban tanggung jawab yang sangat berat, bukan untuk bersenang-senang. Bahkan istri-istri beliau hidup sangat sederhana, seringkali tanpa api di dapur berbulan-bulan.
Jangan Jadikan Tameng
Bagi laki-laki masa kini: Jangan jadikan poligami Nabi sebagai tameng untuk membenarkan nafsu sesaat. Poligami Nabi tujuannya Menolong Janda & Yatim, Membangun Umat, dan Menegakkan Hukum.
Jika poligamimu hanya cari yang muda dan bening, jangan samakan dengan perjuangan Rasulullah. Itu perbandingan yang tidak adil. Rumah Tangga Nabi adalah Sekolah Peradaban. Dari sana lahir hukum, kasih sayang dan Pembelaan pada kaum lemah.

Komentar
Posting Komentar