Langsung ke konten utama

Bencana Akidah di Indonesia

 

Penolakan Natal bersama bukan sikap intoleran, melainkan upaya menjaga kemurnian tauhid dan batas akidah umat Islam di tengah pluralitas Indonesia.

Di penghujung tahun yang penuh bencana, muncul rencana penyelenggaraan perayaan Natal Bersama yang diinisiasi Kementerian Agama Republik Indonesia. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa Kemenag akan menggelar Natal bersama, disebut sebagai yang pertama sejak Indonesia merdeka. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Natal Tiberias 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Menurut Menag, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa tidak boleh ada sekat antarsesama anak bangsa dan bahwa keberagaman adalah “lukisan Tuhan yang indah” yang harus dijaga keharmonisannya.

Narasi ini kembali mengemuka sebagaimana selama ini digaungkan para pendukung pluralisme agama.

Dalam pandangan Islam, persoalan ini menyentuh wilayah paling mendasar, yakni akidah. Bencana terbesar bukanlah bencana alam, melainkan bencana akidah, karena menyangkut keselamatan dunia dan akhirat. Al-Qur’an menggambarkan dahsyatnya penyimpangan ini:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا

لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا

أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا

وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

“Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Sungguh, kamu telah mendatangkan sesuatu yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karenanya, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menisbatkan anak kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Padahal tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 88–92).

Ibnu Abbas menafsirkan lafaz iddan sebagai dosa yang sangat besar. Kemusyrikan digambarkan mengguncang langit dan bumi karena kebesaran hak Allah atas tauhid.

Islam mengakui pluralitas sebagai sunatullah. Al-Qur’an menegaskan, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”, serta لا إكراه في الدين, “tidak ada paksaan dalam beragama”. Namun Islam menolak pluralisme agama yang mencampuradukkan akidah.

Fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 secara tegas mengharamkan paham yang menyamakan semua agama, seraya menegaskan toleransi sosial tanpa penyatuan keyakinan.

Natal bagi umat Kristen adalah perayaan kelahiran anak Tuhan. Sementara Islam menegaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Prinsip ini diajarkan sejak dini melalui sifat Mukhalafah lil Hawadits. Meminta Muslim ikut merayakan Natal berarti menempatkan mereka dalam kontradiksi akidah. Toleransi bukan ikut ritual, melainkan saling menghormati tanpa mencampuri keyakinan.

Sejarah mencatat ketegasan Buya Hamka. Dalam memoarnya disebutkan bahwa beliau menyatakan haram bagi Muslim menghadiri perayaan Natal karena menyangkut aqidah tauhid. Keteguhan ini membuatnya memilih mundur dari jabatan Ketua MUI, hingga wafat tidak lama kemudian.

Para ulama klasik pun menekankan penjagaan akidah. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq menyebutkan anjuran membaca syahadat saat melihat tempat ibadah non-Muslim:

أشهد أن لا إله إلاّ ﷲ وحده لا شريك له إلٰهًا واحدًا, لا نعبد إلا إيّاه

“Disunahkan membaca syahadat agar akidah tidak terkotori, karena di tempat itu Allah disekutukan.”

Al-Qur’an kembali mengingatkan:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).

Kesyirikan ditegaskan sebagai kezaliman terbesar:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13).

Tauhid tidak pernah bisa dikompromikan dengan syirik. Sebagaimana ditegaskan Buya Hamka, jika tauhid diperdamaikan dengan syirik, maka itu adalah kemenangan syirik. Karena itu, penolakan Natal bersama bukan sikap anti-keberagaman, melainkan bentuk tanggung jawab menjaga kemurnian akidah.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dengan Mata Melotot, Pria Bali ini Melarang Umat Islam Merayakan Takbiran di Bali Saat Nyepi

  Tanyaislamyuk - Viral di media sosial, seorang pria Bali bernama Hercules meminta umat Islam melaksanakan takbiran di rumah saat Hari Raya Nyepi. Dengan nada tegas, ia menilai takbiran di luar rumah berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu saat menjalankan Nyepi. Video tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warganet. Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan panduan khusus jika Nyepi bertepatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 H di Bali. Takbiran diperbolehkan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, petasan, atau bunyi-bunyian, dan berlangsung pukul 18.00–21.00 WITA. Perbedaan keyakinan adalah kenyataan di Indonesia. Jika semua pihak bisa saling menahan diri dan menghormati kesepakatan bersama, keharmonisan justru bisa semakin kuat.

Dunia Baru Saja Diguncang Kabar Netanyahu Tewas, Kini Foto Jasadnya Saat Dievakuasi Mulai Beredar

  Tanyaislamyuk - Dunia diguncang kabar bahwa Benjamin Netanyahu tewas setelah serangan besar menghantam wilayah Israel. Tak lama setelah kabar itu menyebar, muncul foto yang diklaim memperlihatkan proses evakuasi jasadnya. Namun hingga kini belum ada kemunculan Netanyahu di publik untuk membantah rumor tersebut. Kita tunggu saja kemunculannya di publik. Semenjak kabar ia mati oleh rudal Iran beredar, dia belum tampil di depan publik. Tapi bisa saja kematiannya memang tidak akan pernah dipublikasikan. Dan yang muncul nanti hanyalah “Netanyahu” baru dengan berbagai keanehan fisiknya. Mungkin saat ini sedang dilakukan audisi untuk mencari sosok yang mirip. Dunia hanya bisa menunggu… atau mungkin sedang menyaksikan sandiwara besar. Menurut kalian ini benar atau hanya sandiwara politik? Tulis pendapat kalian di komentar. Kalau kabar ini benar, apa dampaknya bagi Israel dan Iran?

Kenapa Orang yang Paling Religius Pun Bisa Bercerai? Al-Quran Menyebut Satu Hal yang Sering Terlewat!

  Tanyaislamyuk - Kesalahan adalah pintu masuk yang indah, tapi tanpa satu ilmu ini, pintu itu tidak selalu membawa ke tempat yang seharusnya. Mereka sholat tahajud Bersama, hapal ayat-ayat tentang keluarga, dan dikenal sebagai pasangan yang religius. Lalu, mereka bercerai. Dan semua orang bertanya: " Bagaimana bisa ?". Tapi pertanyaan yang lebih penting justru tidak pernah diajukan: Apakah kesalahan tanpa satu hal ini cukup untuk menyelamatkan sebuah pernikahan?. Al-Quran menyebutnya dengan jelas, tapi hamper tidak pernah ada yang membahasnya. Kita diajarkan banyak hal sebelum menikah. Kewajiban istri, hak suami, dan rukun nikah. Tapi ada satu hal yang hamper tidak pernah diajarkan yang justru Allah sebut sebagai pondasi dari segalanya. Surah At-Thalaq ayat 2, diantara ayat-ayat tentang perceraian, Allah menyisipkan: " Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar ". Takwa. Bukan hanya ritual. Takwa yang hidup di dalam keputusa...